Kamis, 13 November 2014

Cinta itu Bodoh dan Buta




Cinta itu bodoh dan buta. Dia bisa membuat logika tidak berfungsi dengan semestinya. Dia hanya mengegoiskan perasaan. Cinta itu rasa yang paling norak sedunia. Dia bisa bikin kita tertawa, menangis, marah, bahagia, dan merasa seperti kehilangan dunia yang dulu telah terbiasa kita jalani sendiri. Dia datang tanpa permisi dan pergi sesuka hati. Begitu indah diawal pertemuan dan pada akhirnya berakhir di tengah jalan dengan meninggalkan kenangan dan luka.
Ini bukan salah cinta. Tapi kesalahan ada pada cara manusia yang masih keliru dalam mencintai seseorang. Dan keliru membedakan apa yang seseorang rasakan itu cinta atau hanya rasa ingin memiliki. Sehingga saat menjalin hubungan bukan rasa bahagia, enjoy, nyaman dan aman yang dirasakan, melainkan rasa tertekan dan terkekang karena sikap pasangan yang berubah menjadi possessive terhadap pasangannya dengan alasan karena takut kehiangan. Beberapa orang yang memiliki pasangan yang seperti ini pasti akan merasa tidak bebas dalam beraktivitas atau bergaul dengan orang lain dan tentu saja tidak menikmati kehidupan yang ia punya. Hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri suatu hubungan yang mereka anggap sudah tidak sehat lagi.
Namun bagaimana bila ada seseorang yang masih bertahan dan terus mempertahankan suatu hubungan yang pasangannya bersikap bukan hanya menjadi possessive, tapi kasar, tempramental, dan egois? Apakah cinta telah membuatnya benar - benar bodoh dan buta? Padahal masih banyak di luar sana orang lain yang jauh lebih baik. Namun ia menolak untuk meninggalkannya dengan alasan yang ia katakan, “Di luar sana memang banyak orang – orang yang jauh lebih baik dari dia tapi tidak ada seseorang pun yang mencintaiku seperti dia. Karena aku suka cara dia mencintaiku.” Adakah yang salah dengan alasan ini? 
Inilah yang pada akhirnya membuka pikiranku, bahwa cinta itu memang bodoh dan buta. Dalamnya lautan masih bisa diukur, tapi dalamnya hati seseorang tidak ada yang tahu. Betapa tulusnya seseorang itu mencintai pasangannya. Setiap manusia memiliki kebaikan dan keburukan. Sebaik – baiknya manusia pasti ada di dalamnya tersimpan keburukan. Dan seburuk – buruknya manusia juga pasti ada tersimpan kebaikan. Karena manusia tidak sempurna, dan pasangan sejatilah yang tulus mencintainya akan melengkapi ketidak sempurnaan itu.